Kisah Pria di Rembang yang Hidup dari Belatung

Budi daya maggot di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. (Muhammad Minan - katakutip.com)

Rembang – Jika kebanyakan orang merasa jijik jika melihat belatung, beda dengan sosok pria satu ini yang justru kini bisa hidup dari belatung.

Dia adalah Singgih Pratama (20) warga Desa Mlagen Kecamatan Pamotan, Rembang. Ia sukses menjadi peternak maggot alias belatung sampai untung jutaan rupiah per bulannya.

Singgih bercerita, ide awal budi daya belatung itu berawal dari keprihatinannya terhadap sampah sisa makanan yang terbuang sia-sia.

“Ide itu berawal dari keluhan banyaknya sisa makanan yang terbuang sia-sia, sehingga kami muncul ide untuk membuat budidaya maggot agar sampah sisa makanan tidak terbuang sia-sia,” kata Singgih.

Selama lebih kurang 2 tahun ia mulai menekuni ternak belatung. Hasil dari ternaknya, kemudian ia jual untuk konsumsi pakan lele, ayam, dan lain sebagainya.

Singgih, menunjukkan hasil ternak belatungnya. (Muhammad Minan – katakutip.com)

‚ÄúDalam sebulan sedikitnya bisa menghasilkan sekitar tiga kuintal maggot. Untuk harga jualnya itu Rp 15 ribu per kilogram. Dalam budidaya maggot itu tidak ada pengurangan, yang ada itu terus bertambah, karena satu ekor lalat saja bisa menghasilkan sampai 500 telur,” terangnya.

Baca juga : Gara-gara Tokek! Pria Ini Cuan Puluhan Juta Tiap Bulannya

“Sedangkan untuk pakan maggotnya sendiri saya biasa menggunakan limbah makanan yang sudah basi, buah-buahan dan sayuran-sayuran,” tambahnya.

Ia mengaku, jika dihitung menggunakan acuan jumlah dan harga panen, dalam sebulan dirinya bisa menghasilkan untung Rp 5 juta rupiah.

“Saya masih jual di wilayah lokal Rembang saja, biasanya juga dibeli teman-teman untuk pakan hewan ternaknya,” tuturnya.

Singgih menambahkan, di samping peran maggot sebagai penyetok pakan alternatif ternak, maggot juga sangat membantu dalam mengurangi limbah-limbah sampah di Indonesia khususnya sampah organik.

“Maggot bisa dijadikan alternatif dalam mengurai sampah organik di Indonesia, karena dari jumlah semua sampah yang ada di Indonesia sekitar 50 sampai 60 persennya adalah sampah organik. Maka dari itu, saya berharap bisa membantu dalam 2 sektor itu, baik dalam penyuplai pakan ternak atau membantu dalam menangani perihal sampah,” pungkasnya.

(mmn/ars)